Sajak Kehilangan
tanpa cahaya...
Kilau matamu satu-satunya pertanda
Tiada prasangka..
tak menoleh praduga rasa...
Tiada memandang latar dasar keyakinan jiwa...
Para penonton drama kita berdecak tak percaya...
Bahasa apa yang akan menyatukan mereka..
Sedang tutur penuntun masing-masing jauh berbeda...
Sela ruang apa yang akan menaungi mereka...
Sedang dua pintu tertutup tak sisakan celah...
Terucap sebait monolog dalam lembar kita...
Kami berbicara dengan bahasa semesta...
Bahasa rindu sang kumbang dengan sekelopak bunga...
Bahasa kasih sang angin dengan guguran daun kamboja...
Bahasa si makhluk dengan penciptanya: ya! BAHASA CINTA....
Sesekali sang badai menyua...
Sempat sang petir menyambar...
Pernah gelombang menggoyang..
Kita bertahan…
Di sisimu, cerca dan serapah mengumandang...
Di sisiku, kecam dan umpatan makin lantang....
Di sisi kita berdua, cinta masih berdendang...
Kita bertahan…
Genderang perang bertalu...
Logika mulai menyerbu...
Hati masih bersikukuh...
Meski jelas menyandang rapuh...
Suara itu makin terngiang di telinga kita....
Sumpah dan serapah...
Cerca dan umpatan...
Sesal dan isakan...
Mengerumun dan mengeras...
Menyeruak dinding keegoisan...
Ratapan mereka, tangisan mereka...
Demikian kelam dan menghujam...
Menyambar rasa bersalah....
memaksa kita Menulis ulang makna kebahagiaan…
CINTA adalah satu-satunya yang kita punya.....
Dan bila kebahagiaan adalah cinta...
Cukuplah kita berbahagia...
Cukuplah hati yang bersua...
Cukuplah rindu yang menggema...
Cukuplah kenangan bercerita...
Cukuplah rasa yang bersemayam...
Kita ada untuk mereka...
Kita hadir dari mereka...
Dan kita bersua karena mereka..
Kembalilah kau dan aku kepada mereka.....
Sang lembayung tertunduk pada pertemuan terakhir itu...
Hijaunya menyurut pudar dalam hujan tak henti berguyur...
Sebagaimana airnya samarkan airmata kita....
Bukan, bukan...
Kita tak menyesali perbedaan...
Tangisan kita menyanyikan sebuah kebanggaan...
Dua jiwa berbeda PERNAH bersatu dalam kasih sayang...

0 komentar: